Pages

July 01, 2010

BAB I PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar eksistensi guru dalam dunia pendidikan. Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan salah satunya dengan menerapkan strategi pembelajaran yang efektif.
Belajar merupakan proses aktif peserta didik untuk mempelajari dan memahami konsep-konsep yang dikembangkan dalam kegiatan belajar mengajar.1 Belajar merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik baik ketika mereka berada di sekolah maupun lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai oleh peserta didik.
Keberhasilan proses belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah strategi belajar mengajar yang digunakan oleh guru. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi peserta didik dan memperbaiki kualitas mengajarnya.2 Guru yang inovatif dan kreatif berani mencoba metode-metode baru yang dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar. Agar peserta didik dapat belajar dengan baik maka metode mengajar harus diusahakan yang tepat, efisien, dan seefektif mungkin.
Dari hasil wawancara tanggal 16 Januari 2009 selaku guru kimia di Madrasah Aliyah Negeri , diperoleh keterangan KKM kimia sebesar 65 dan selama ini metode yang digunakan dalam pembelajaran kimia kebanyakan adalah metode ceramah sehingga peserta didik dalam kegiatan belajar menjadi bosan serta cenderung pasif. Peserta didik hanya mengambil peranan yang sedikit dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik lebih banyak berperan sebagai pendengar atau pencatat. Dengan hanya mendengarkan ceramah yang dilakukan guru, peserta didik tidak diberi kesempatan untuk membangun sendiri pengetahuan tentang fakta, konsep, dan teori dalam pembelajaran kimia. Selain itu di dalam kelas terdiri dari beragam kualitas individu. Hal ini dapat dilihat dari adanya peserta didik yang pandai, sedang, dan kurang pandai. Dalam pembelajaran, kelas pada umumnya didominasi oleh mereka yang termasuk peserta didik yang pandai, sebaliknya peserta didik yang kurang pandai cenderung menarik diri dalam pembelajaran dan terkesan pasif. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran seperti ini adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share).
Dalam pembelajaran kooperatif, peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu belajar satu sama lainnya. Melalui kerja kelompok, peserta didik belajar untuk bersepakat memutuskan suatu masalah dan lebih menghargai pendapat serta perasaan orang lain. Teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif.3
TPS (Think Pair Share) salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini memberikan kesempatan pada peserta didik untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) adalah terciptanya optimalisasi partisipasi peserta didik.4
Dari latar belakang masalah, pembelajaran kimia peserta didik cenderung bosan dan pasif dalam kegiatan proses belajar mengajar, maka kiranya perlu untuk melakukan penelitian dengan mengembangkan perangkat pembelajaran yang bercirikan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) sebagai salah satu alternatif dalam mengatasi permasalahan pembelajaran kimia di Madrasah Aliyah Negeri.
Penelitian ini berjudul “Perbedaan Hasil Belajar Kimia antara Metode Pembelajaran Kooperatif TPS (Think Pair Share) dan Metode Ceramah Materi Pokok Reaksi Reduksi Oksidasi Peserta Didik Kelas X Semester II MAN . Tahun Pelajaran 2008/2009”

B.Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: Di dalam pembelajaran kimia peserta didik cenderung bosan dan pasif dalam kegiatan proses belajar mengajar.

C.Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas pengertian dan menghindari kesalahpahaman pembahasan dalam penelitian ini, penulis perlu mempertegas istilah-istilah yang dianggap perlu.
Adapun istilah tersebut antara lain :
1.Hasil Belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.5 Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya.6 Penguasaan hasil belajar oleh peserta didik dapat dilihat dari perilakunya, yaitu perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan.7
2.Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi palajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, para peserta didik diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk meningkatkan pencapaian prestasi peserta didik, mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, menumbuhkan kesadaran para peserta didik perlunya belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan mengintegrasikan serta mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuan peserta didik.8
3.TPS (Think Pair Share).
Metode TPS (Think Pair Share) adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik. Prosedur yang digunakan dalam TPS (Think Pair Share) dapat memberi peserta didik lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.9
4.Metode Ceramah.
Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional.10 Metode ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah peserta didik yang pada umumnya mengikuti secara pasif.11
5.Materi Pokok Reaksi Reduksi Oksidasi.
Merupakan materi pokok dari pelajaran kimia yang diberikan pada kelas X semester II tingkat SMA. Materi pokok reaksi reduksi oksidasi meliputi: perkembangan konsep reaksi redoks, oksidator-reduktor dalam reaksi redoks, reaksi autoredoks, tata nama senyawa redoks, dan peranan lumpur aktif dalam pengolahan air limbah.

D.Perumusan Masalah
Berawal dari masalah pemilihan judul di atas, maka penulis akan mengangkat pokok permasalahan sebagai berikut: Adakah perbedaan hasil belajar kimia antara peserta didik yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan metode ceramah pada materi pokok reaksi reduksi oksidasi peserta didik kelas X semester II MAN . tahun pelajaran 2008/2009.



E.Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan setelah menyelesaikan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Bagi Guru
a.Sebagai bahan masukan untuk menerapkan suatu metode pembelajaran.
b.Selain bahan masukan, diharapkan agar guru memilih metode pembelajaran dan dapat mengembangkannya sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
2.Bagi Peserta Didik
a.Dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran kimia.
b.Dapat menumbuhkan semangat kerja sama, karena dalam model pembelajaran kooperatif keberhasilan individu merupakan tanggung jawab kelompok.
3.Bagi Sekolah
a.Dapat meningkatkan SDM baru demi kemajuan pendidikan terutama dalam pembelajaran kimia.
b.Dapat meningkatkan kualitas sekolah diwujudkan melalui nilai akhir nasional yang optimal.
4.Bagi Peneliti
a. Mengetahui perkembangan pembelajaran yang dilakukan guru terutama pembelajaran kimia.
b.Dapat menambah pengalaman secara langsung sebagaimana penggunaan metode pembelajaran yang baik dan menyenangkan.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment