Pages

September 23, 2010

bab 2

1. Hakekat Belajar dan Hasil Belajar MKDLE
a. Hakekat Belajar
Manusia adalah makluk yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, oleh karna itu manusia tak dapat terpisahkan dari kegiatan belajar untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut. Melalui kegiatan belajar juga diperoleh perubahan dalam diri individu belajar seperti dari keadaan tidak tahu menjadi tahu .Karena belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannnya (Slameto : 2003).
Dan perubahan tingkah laku yang diperoleh dari kegiatan belajar bersifat relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman (Chaplin dalam Syah : 2004)
Menurut Blom ( 1956 ) dalam Purba ( 2000 ) bahwa pada dasarnya perubahan perilaku individu belajar akan mencakup tiga kawasan, yaitu:
1. Ranah kognitif, yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesa dan evaluasi.
2. Ranah efektif, yaitu penerimaan, menanggapi, menilai, pengaturan dan penghayatan.
3. Ranah psikomotorik, terdiri dari sikap, respon, gerakan biasa dan respon nyata yang kompleks.
Namun tidak setiap perubahan dalam diri seseorang yang merupakan perubahan dalam arti belajar, berikut adalah ciri – ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar:
1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
Berarti seseorang yang sedang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau setidaknya ia merasakan telah adanya suatu perubahan dalam dirinya.
2. Perubahan dalam belajar bersifat kountiniu dan fungsional.
Perubahan yang terjadi dalm diri seseorang sebagai hasil belajar akan berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan lain yang berguna bagi kehidupan dan proses belajar berikutnya.
3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
Dalam kegiatan belajar, perubahan – perubahan tersebut senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu semakin banyak usaha untuk belajar dilakukan maka semakin banyak pula perubahan yang diperoleh.
4. Perubahan dalam belajar bersifat tetap.
Setiap perubahan yang bersifat sementara ( temporer ) tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar, seperti menangis, bersin, berkeringat dsb.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku ini terjadi guna mencapai suatu tujuan tertentu dan perubahan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar – benar disadari.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Dimana jika seseorang belajar maka akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang menyeluruh dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan dsb.
Berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada individu belajar, maka belajar menurut Walgito ( 2004 ) adalah proses adaptasi perilaku yang bersifat progeresif, bahwa akibat dari belajar tersebut adanya tendensi ke arah yang lebih sempurna dan lebih baik dari keadaan sebelumnya. Dan perubahan tersebut tidak serta merta hadir sebagai akibat dari kegiatan belajar namun terdapat faktor lingkungan yang sedikit banyaknya memberikan pengaruh. Hal ini didasarkan pada defenisi belajar yang merupakan suatu aktifitas mental dan psikologis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan – perubahn dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang bersifat berbekas ( Winkel : 1999 )
Berbagai perubahan belajar baik berupa perubahan pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diharapkan dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya yang diperoleh dari serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, meniru, mendengarkan dan lainnya ( Sudirman : 2002 ).
Berikut terdapat hal – hal pokok yang berkaitan dengan perubahan individu belajar ( Suryabrata : 2004 ), yaitu :
a. Bahwa belajar itu membawa perubahan ( dlam arti behavioral change, aktual maupun potensial ).
b. Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c. Bahwa perubahan tersebut terjadi karena usaha ( dengan sengaja ).
Tidak setiap kegiatan transfer informasi dan pengetahuan dikatakan belajar, terdapat beberapa unsur belajar yang harus diperhatikan ( Sukmadinata : 2003 ) :
1. Tujuan belajar, sehingga dapat tergambar jelas kebutuhan dari proses belajar tersebut.
2. Kesiapaan situasi, baik dari siswa maupun pengajar.
3. Intrepertasi, hubungan antar situasi belajar.
4. Respon.
5. Konsekuensi.
Dan menurut Sukmadinata ( 2003 ) prinsip belajar, yaitu :
1. Belajar merupakan bagian dari perkembangan.
2. Belajar berlangsung seumur hidup.
3. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan, kematangan dan usaha individu.
4. Belajar mencakup semua aspek kehidupan.
5. Belajar disetiap tempat dan waktu.
6. Belajar berlangsung dengan atau tanpa guru.
Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi belajar adalah ( Syah : 2005 ) :
1. Faktor internal ( sosial dan psikologis ), yaitu : Intelegensi, sikap, bakat, minat dan motivasi.
2. Faktor eksternal.
a. Lingkungan sekolah : guru, staf dan teman kelas.
b. Lingkungan nonsosial : gedung sekolah, rumah, alat – alat belajar, cuaca dan waktu.
3. Faktor pendekatan belajar, yakni menyangkut strategi belajar dan metode belajar yang digunakan dalam aktifitas belajar tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka belajar adalah suatu aktifitas dalam interaksi aktif yang memberikan perubahan yang bersifat progresif dan menetap pada individu belajar dan merupakan manifestasi dari berbagai respon baru yang berbentuk pengetahun, keterampilan, sikap dan kecakapan yang diperoleh melalui berbagai latihan dan pengalaman.Dimana pada proses belajar tersebut merupakan untaian kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku.
b. Hakekat Hasil Belajar MKDLE
Hasil belajar merupakan suatu bukti keberhasilan atau kemampuan seseorang dalam usaha melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan nilai yang dicapai ( Winkel dalam Sadirman : 2002 ). Hal senada juga dikemukakan oleh Mulyono ( 1999 ), bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh setelah melalui kegiatan belajar.
Menurut Walgito ( 2004 ), perubahan perilaku yang aktual maupun potensial adalah hasil belajar. Dan menurut Romiszowski dalam Mulyono (1999), hasil belajar dapat dikelompokkan dalam dua macam :
a. Pengetahuan, yaitu :
1 Pengetahuan tentang fakta.
2 Pengetahuan tentang prosedur.
3 Pengetahuan tentang konsep.
4 Pengetahuan tentang prinsip.
b. Keterampilan, yang terdiri dari empat kategori
1 Keterampilan berfikir ( kognitif ).
2 Keterampilan untuk bertindak ( motorik ).
3 Keterampilan bersikap dan bereaksi.
4 Keterampilan berinteraksi.
Dimana dalam setiap proses belajar perubahan tingkah laku adalah tujuan utama, baik perubahan sikap (ranah psikomotorik), penerimaan (ranah afektif ) atau bahkan hanya sebatas perubahan pengetahuan saja ( ranah kognitif ). Bahkan Bloom dalam Purwanto (2001), membagi tipe hasil belajar menjadi :
1. Ranah kognitif yang berhubungan dengan kemampuan berfikir, yaitu: Knowledge ( pengetahuan ), Kompheresi ( pemahaman ), Aplikasi ( penerapan ), Analisis, Sintesis, Evaluasi.
2. Ranah afektif menyangkut aspek sikap yang dibagi menjadi lima kemampuan, yaitu : receiving ( sikap menerima ), responding, valuing ( nilai ), organization, characterization.
3. Ranah psikomotorik behubungan dengan kemampuan motorik dan gerak, yang terdiri dari : observing, imitation, practicing, dan adapting.
Hasil belajar sebagai tujuan dari kegiatan belajar tidak terjadi dengan serta
merta dari suatu proses, banyak hal yang mempengaruhi hasil belajar baik yang bersifat ekstern seperti faktor keluarga, masyarakat dan sekolah atau faktor intern berupa faktor jasmani dan psikologis individu. Melalui hasil belajar juga dapat diketahui kemampuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar. Hasil belajar dapat diketahui melalui penilaian dengan cara mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar melalui tes. Penilaian hasil belajar ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan belajar siswa dalam hal penguasaan materi atau untuk mengetahui status siswa dan kedudukannya baik secara individu maupun secara kelompok.
Maka hasil belajar adalah suatu tingkatan yang akan diperoleh dari aktifitas belajar yang bersifat terukur berupa ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan, dan memuat informasi mengenai kemampuan dan keberhasil individu belajar selama proses belajar yang ditandai dengan perolehan nilai ataupun pengakuan dan penghargaan lainnya.
Mata diklat Menguasai Konsep Dasar Listrik dan Elektronika ( MKDLE ) adalah salah satu sub kompetensi dari mata diklat Dasar – Dasar Listrik dan Elektronika. MKDLE merupakan salah satu mata diklat produktif yang diajarkan pada program studi teknik pemanfaatan tenaga listrik dan audio video, yang memuat tentang listrik dan elektronika tingkat dasar. Sesuai dengan kurikulum tetapan sistem pengajaran ( KTSP ), maka yang menjadi kompetensi mata diklat tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel.2.1. Kompetensi dasar mata diklat Mata diklat Menguasai Konsep Dasar Listrik dan Elektronika ( MKDLE ).
Kompetensi Dasar Indikator Materi Pelajaran Pengalaman Belajar
1.1. Memahami jenis peralatan dan standarisasi gambar teknik dijelaskan sesuai dengan standar teknik listrik dan elektronika.
1.2. Menguasai dasar – dasar proyeksi gambar teknik listrik dan elektronika.
1.3. Menguasai rangkaian listrik dan elektronika digambar sesuai dengan standar dan simbol gambar teknik listrik dan elektronika.
2.1. Memahami dasar elektronika dan kemagnetan dijelaskan sesuai dengan konsep dan hukum elektronika dan kemagnetan.
2.2. Memahami dasar akumulator diterangkan sesuai dengan sifat dan karakteristiknya.
2.3. Menguasai komponen pasif dijelaskan sesuai dengan karakteristik komponen.
2.4. Memahami hukum – hukum kelistrikan rangkaian DC dan AC dijelaskan sesuai dengan konsep rangkaian DC dan AC.
2.5. Menguasai konsep dasar mesin listrik DC/AC.
2.6. Memahami teori ataom dan molekul.
2.7. Mengetahui sifat dan macam bahan penghantar dan isolator.
2.8. Mengetahui karakteristik dan penggunaan komponen semikonduktor yang diidentifikasi berdasarkan data pengukuran. -0 Dapat mengenal jenis peralatan gambar teknik listrik dan elektronika.
-1 Dapat menggunakan peralatan gambar teknik.
-2 Dapat membedakan jenis/ metode proyeksi dalam gambar teknik listrik dan elektronika.
-3 Dapat membaca rangkaian listrik dan elektronika serta mengenal simbol – simbolnya.
-4 Mampu menguji akumulator.
-5 Mengenal jenis – jenis kapasitor.
-6 Mengukur lama pengisian dan pengosongan.
-7 Mengenal sifat – sifat magnet.
-8 Membuktikan terjadinya GGL.
-9 Mengenal macam – macam:
-10 Elemen sumber listrik arus searah.
-11 Elemen kering ( batu beterai ).
-12 Logam, tembaga, seng dan H2SO4.
-13 Mengenal jenis – jenis hambatan.
-14 Mengenal kode warna pada resistor.
-15 Menguasai hukum Ohm.
-16 Menguasai hukum Kirchoff I.
-17 Menguasai hukum Kirchoff II.
-18 Mengenal Rotor dan Stator, magnet dan kawat gulungan.
-19 Jenis – jenis peralatan gambar teknik listrik dan elektronika.
-20 Standarisasi ukuran kertas gambar teknik.
-21 Stukklyst untuk gambar teknik.
-22 Menggambar bagan teknik dalam posisi isometrik, perspektif dan dimetrik.
-23 Menggambar proyeksi jaringan cara proyeksi Amerika.
-24 Menggambar proyeksi dengan cara proyeksi Eropa.
-25 Komponen elektrostatistika dan kemagnetan.
-26 Dasar akumulator.
-27 Komponen pasif.
-28 Hukum listrik rangkaian Dcdan AC.
-29 Dasar – dasar mesin listrik DC/AC.
-30 Teori atom dan molekul.
-31 Sifat dan macam bahan penghantar dan isolator.
-32 Karakteristik dan penggunaan semikonduktor -33 Terampil menggunakan alat – alat gambar teknik.
-34 Terampil membuat ukuran kertas gambar.
-35 Terampil membuat skuklyst berbagai ukuran kertas.
-36 Terampil menggambar dalam berbagai posisi gambar.
-37 Terampil menggambar dengan metode proyeksi Amerika.
-38 Terampil menggambar dengan metode proyeksi Eropa.
-39 Dapat menggunakan dasar elektrostatistika dan kemagnetan.
-40 Dapat meguji akumulator.
-41 Dapat menggunakan hukum kelistrikan AC dan DC pada rangkaian listrik.
-42 Dapat mengoperasikan motor DC dan AC.
-43 Dapat menguji karakteristik komponen semikonduktor.
-44 Dapat menggunakan komponen semikonduktor.
Selanjutnya hasil belajar dapat diketahui dengan mengadakan evaluasi belajar. Oleh karena itu, setiap kegiatan belajar di sekolah perlu dilakukan evaluasi guna mengetahui kemampuan belajar siswa. Begitu pula halnya dengan mata diklat MKDLE juga membutuhkan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui evaluasi setelah mengikuti dan mempelajari mata diklat ini, yang menunjukkan tingkat penguasaan, pengetahuan, sikap, keterampilan siswa dalam bidang ilmu ( keahlian ) yang dituntut oleh mata diklat MKDLE.
2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Dalam proses transfer ilmu pada suatu kegiatan belajar mengajar terdiri dari beberapa unsur penting, diantaranya adalah pengajar ( guru ), anak didik, metode dan media/ sumber belajar . Guru dan anak didik berperan sebagai subjek aktif dalam kegiatan belajar mengajar, dan untuk melaksanakan hal tersebut dibutuhkan suatu metode sebagai bagian dari interaksi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar.
Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Maka metode pengajaran adalah cara – cara pelaksanaan daripada proses pengajaran ( Winarno : 1998 ). Metode pembelajaran ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu guru, anak didik dan situasi lingkungan belajar.
Sedangkan menurut Djamarah ( 2002 ), metode adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Adapun faktor yang mempengaruhi metode adalah : tujuan, anak didik, situasi, fasilitas dan pribadi guru. Jadi metode pembelajaran adalah cara yang digunakan pada proses belajar untuk mencapai tujuan belajar tersebut.
Selanjutnya metode pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan belajar, yang dirancang berdasarkan proses analisis yang diarahkan kepada implementasi kurikulum dan aplikasinya pada tingkat operasional di depan kelas ( Sudrajat : 2007 ). Metode pembelajaran juga diidentifikasi sebagai suatu rancangan sistematik untuk menyajikan informasi dan merupakan cara atau alat yang digunakan untuk mengatur aktifitas siswa dalam mencapai tujuan ( Gerlach dan Ely dalam Sutdipto : 2003 ).
Dari uraian diatas, maka metode pembelajaran adalah cara yang digunakan sebagai landasan yang disusun sistematik dalam menyampaikan informasi ( materi belajar ), sekaligus digunakan untuk menciptakan kondisi belajar yang efektif guna mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Berikut ini terdapat beberapa pertimbangan dalam memilih model pembelajaran, yaitu :
a. Yang berhubungan dengan tjuan belajar yang akan dicapai.
b. Bahan / materi pembelajaran.
c. Sudut siswa, seperti minat, bakat, kondisi siswa dan gaya belajar siswa.
Terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan pada proses belajar mengajar. Salah satunya adalah metode pengajaran kooperatif. Metode pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok – kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda untuk bekerja sama sebagai suatu tim untuk memecahkan masalah, menyelesaikan tugas, untuk mencapai tujuan bersama ( Usman : 2001 ). Kemudian pembelajaran kooperatif adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dengan tugas – tugas terstruktur ( Lie : 2000 ) Siswa belum boleh berhenti belajar sebelum yakin bahwa seluruh anggota tim menyelesaikan tugas.
Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil pembelajar untuk bekerjasama menyelesaikan masalah atau tugas untuk mencapai tujuan bersama sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar bersama – sama pula. Dan pada metode pembelajaran kooperatif siswalah yang lebih aktif dalam kegiatan belajar sedangkan guru adalah pengelola aktifitas kelompok.
Melalui pembelajaran kooperatif dapat tumbuh rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egoisme dalam diri mereka masing – masing, sehingga terbina sikap kesetiawanan social di kelas.Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan. Tidak ada makluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan mahkluk lain. Anak didik yang dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok akan menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau mambantu yang kekurangan. Sebaliknya yang kekurangan dengan rela hati mau belajar dari yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder.
Persaingan yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Dan hasil yang optimal akan diperoleh jika para siswa yang tergabung dalam kelompok saling membantu dan memotivasi. Kondisi ini akan tercipta dari suasana saling memiliki, saling menerima, saling membantu dan saling memperhatikan satu sama lain (Suparno : 2001).
Melalui pembelajaran kooperatif dapat pula meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus kemampuna hubungan social, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain dan meningkatkan harga diri serta dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir dan memecahkan masalah
( Slavin dalam Sanjaya : 2007 ).
Menurut Ibrahim dkk (2000), terdapat beberapa ciri – ciri pembelajaran kooperatif, yaitu:
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi, sedang dan rendah.
3. Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.
Adapun unsur – unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim dkk ( 2000 ) adalah:
1. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama ”
2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3. Siswa harus melihat bahwa mereak semua memiliki tujuan yang sama.
4. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab sama diantara anggota kelompoknya.
5. Siswa akan dikenakan evaluasi atau penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sedangankan menurut Roger dan Jhonson ( dalam Lie : 2000 ) terdapat lima unsur pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan:
1. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan kelompok dipengaruhi oleh usaha dari setiap anggotanya. Dan untuk menciptakan kelompok pelajar yang efektif, pengajar harus menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bias mencapai tujuan mereka.
2. Tanggungjawab Perseorangan
Jika tugas dan pola penilaian yang dibuat berdasarkan prosedur pembelajaran kooperatif maka setiap siswa akan merasa bertangungjawab untuk melakukan yang terbaik.
3. Tatap Muka
Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi sehingga menciptakan interaksi yang menguntungkan antar anggota.
4. Komunikasi Antar Anggota
Kunci keberhasilan suatu kelompok adalah komunikasi, oleh karean itu guru harus mengajarkan cara – cara berkomunikasi yang baik karena tidak semua anggota kelompok memiliki keahlian mendengarkan dan berbicara di depan kelompok dan mengungkapkan pendapat mereka.
5. Evaluasi Proses Kelompok
Selanjutnya kelompok juga memerluakan waktu untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja mereka sehingga kerjasama ini lebih efektif.
Menurut Sanjaya : 2007,terdapat empat unsur pembelajaran kooperatif:
1. Peserta didik dalam kelompok.
2. Aturan kelompok.
3. Upaya belajar setiap anggota.
4. tujuan yang harus dicapai.
Tujuan model pembelajaran kooperatif:
1. Hasil belajar akademik : Model ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik dan membantu siswa memahami konsep – kosap yang sulit.
2. Bertambah luasnya penerima orang – orang yang berbeda – beda berdasarkan ras, budaya, tingkatan social, kemapuan dan ketidakmampuan mereka. Belajar kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja, saling memiliki ketergantungan pada tugas masing – masing.
3. Mengajarkan pada siswa keterampilan – keterampilan bekerja bersama dan saling membantu. Ini merupakan keterampilan – keterampilan yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa prosedur, diantaranya :
1. Penjelasan materi.
Uraian singkat berupa pokok – pokok materi pelajaran, gambaran umum tentang materi yang harus dikuasai oleh siswa. Dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.
2. Belajar dalam kelompok.
Dimana siswa secara berkelompok belajar aktif dalam kelompok tersebut, baik secara berdiskusi, demostrasi bahkan tanya jawab.
3. Penilaian
Berupa tes atau kuis yang dilakukan secara individu atau kelompok.
4. Pengakuan tinggi.
Pengahrgaan ( award ) untuk kelompok yang berprestasi.
Berikut ini adalah beberapa keunggulan pembelajaran kooperatif :
1. Proses kegiatan belajar mengajar tidak bergantung pada guru. Dengan ini siswa dirangsang untuk lebih aktif sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari beberapa sumber, dan dapat saling belajar dan bertukar informasi antar siswa.
2. Siswa dapat memiliki kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata – kata secara verbal dan membandingkan dengan ide – ide orang lain.
Selanjutnya terdapat beberapa metode pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar, diantaranya tipe Jigsaw, tipe STAD, dan tipe TPS.
TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperaif, dari pada penghargaan individual ( Ibrahim dkk : 2000 ).
Metode pengajara tipe Think-Pair-Share ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberi waktu kepada para siswa untuk berfikir dan merespons serta saling membantu yang lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca tugas. Selanjutnya, guru meminta para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai yang telah dijelaskan oleh guru atau yang telah dibaca. Guru lebih memilih metode Think-Pair-Share dari pada metode tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer).
TPS digunakan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi tertentu. Guru menciptakan interaksi yang dapat mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju. Guru memberi informasi, hanya informasi yang mendasar saja, sebagai dasar pijakan bagi anak didik dalam mencari dan menemukan sendiri informasi lainnya. Atau guru menjelaskan materi dengan mengaitkannya dengan pengalaman dan pengetahuan anak sehingga memudahkan mereka menanggapi dan memahami pengalaman yang baru bahkan membuat anak didik mudah memusatkan perhatian. Karenanya guru sangat perlu memperhatikan pengalaman dan pengetahuan anak didik yang didapatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, titik pusat (fokus) dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Dalam upaya itu, guru menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS. Strategi TPS dimaksudkan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional seperti resitasi, dimana guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa kelas dan siswa memberikan jawaban setelah mengangkat tangan dan ditunjuk. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan di dalam lingkungan seluruh kelompok.
Andaikan guru baru saja menyelesaikan suatu pengkajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas atau situasi teka-teki telah ditemukan. Dan guru menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau didalami.Guru akan membiarkan dan memberi kesempatan kepada anak didik untuk mencari dan menemukan sendiri informasi. Untuk menggairahkan anak didik dalam menerima pelajaran dari guru, anak didik diupayakan untuk belajar sambil bekerja dan belajar bersama dalam kelompok.
Anak didik yang bergairah belajar seseorang diri akan semakin bergairah bila dilibatkan dalam kerja kelompok. Tugas yang berat dikerjakan seorang diri akan menjadi mudah bila dikerjakan bersama. Anak didik yang egois akan menyadari pentingnya kehidupan bersama dalam hal tertentu. Dan anak didik untuk terbiasa menghargai pendapat orang lain dari belajar bersama yaitu anak didik yang belum mengerti penjelasan guru akan menjadi mengerti dari hasil dari hasil penjelasan dan diskusi mereka dalam kelompok. Dalam kasus-kasus tertentu penjelasan anak didik lebih efektif dimengerti dari pada penjelasan dari guru.
Strategi TPS (Think-Pair-Share) memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Sedangkan kelemahan dari TPS (Think-Pair-Share) antara lain:
1. Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
2. Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3. Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
Sesuai dengan namanya, berikut ini adalah langkah-langkah yang diterapkan dalam TPS (Think-Pair-Share):
Tahap 1: Think (berfikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yan berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2: Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengijinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Untuk lebih jelasnya disini akan dijelaskan langkah-langkah pada tahap ke-2 ini adalah:
1 Langkah 1 : Bekerja berpasangan. Tim atau kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan. Satu siswa di dalam pasangan itu mengerjakan lembar kegiatan atau masalah, sementara siswa yang lain membantu atau melatih.
2 Langkah 2 : Pelatih mengecek. Siswa yang menjadi pelatih mengecek pekerjaan partnernya. Apabila pelatih dan partnernya itu tidak sependapat terhadap suatu jawaban atau ide, mereka boleh meminta petunjuk dari pasangan lain.
3 Langkah 3 : Pelatih memuji. Apabila pelatih dan partner sependapat, pelatih memberikan pujian.
4 Langkah 4 : Bertukar peran. Seluruh partner bertukar peran dan mengulangi langkah 1-3 sampai semuanya setuju dangan jawaban yang dikerjakan.
Tahap 3: Sharing (berbagi). Pada tahp akhir, guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai yang telah mereka bicarakan. Langkah ini efektif jika guru bekeliling kelas dari pasangan yang satu kepasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melaporkan.
3. Metode Pembelajaran Konvensional
Metode konvensional dikenal sebagai metode klasikal, yang memandang murid atau kelas sebagai keseluruhan dimana pembelajaran berpusat pada guru sedangkan peserta didik cenderung lebih pasif. Menurut Sanjaya ( 2007 ) bahwa, metode pembelajaran konvensional merupakan suatu cara penyampaian dengan lisan kepada sejumlah pendengar, kegiatan ini berpusat pada penceramahan dan komunikasi yang terjadi searah.
Pada pembelajaran konvensional siswa dipandang sebagai “ yang belum mengetahui sesuatu apapun “ dan hanya menerima bahan – bahan ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Guru adalah orang dewasa yang memiliki pengetahuan dan wewenang untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswanya. Oleh karena itu guru akan bertindak aktif dalam menyalurkan informasi dan siswa akan bertindak pasif dalam mendengarkan. Dan tujuan pembelajaran terbatas pada pemilikian ilmu pengetahuan dan pengembangan daya intelektual anak dan bukan kreativitas siswa. Berdasarkan konsep tersebut, mengajar merupakan suatu rangkaian kegiatan menyampaikan ilmu pengetahuan oleh guru kepada siswa agar siswa tersebut pandai.
Metode pembelajaran konvensional merupakan suatu pendekatan yang berorientasi kepada guru dimana hampir seluruh kegiatan belajar mengajar dikendalikan penuh oleh guru. Metode yang banyak digunakan adalah metode ceramah dengan tatap muka ( face to face ). Seluruh sistem diarahkan pada rangkaian kejadian yang rapi, tanpa ada usaha untuk mencari dan menerapkan strategi belajar yang berbeda sesuai dengan tingkat kesulitan setiap individu siswa. Guru mengkomunikasikan pengetahuannya kepada siswa dalam bentuk pokok bahasan ke dalam beberapa macam bentuk silabus. Guru menentukan keputusan yang bersifat taktis yang berhubungan dengan bagaimana silabus seharusnya diterjemahkan. Keputusan tersebut mencakup struktur waktu yang dipergunakan, cara menyampaikan bahan pelajaran yang dibuat oleh guru. Biasanya para siswa tidak terlibat dalam pengambilan keputusan tersebut.
Menurut Zain ( 2002 ) bahwa proses belajar mengajar konvensional umumnya berlangsung satu arah yang merupakan proses transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai dan lain – lainnya dari seorang guru atau dosen kepada peserta didik, murid atau siswa. Proses seperti itu dibangun atas dasar anggapan bahwa peserta didik ibarat bejana kosong atau kertas putih, guru lah yang harus mengisi bejana tersebut atau menulis apapun di kertas putih tersebut.
Proses belajar mengajar dengan sistem tersebut dibangun oleh seperangkat asumsi sebagai berikut :
Pengajar ( guru / dosen ) Peserta didik
Pintar, serba tahu Bodoh, serba tidak tahu
Mengajar Diajar
Bertanya Menjawab
Memerintah Melakukan perintanh
Ciri – ciri metode pembelajaran konvensional menurut MM–FEUI (2008) antara lain :
a. Berpusat pada guru.
b. Guru menerangkan dan siswa mendengarkan ( one way learning ).
c. Siswa cenderung bertindak pasif ( partisipatif rendah ).
d. Tugas guru menyiapkan dan menjelaskan seluruh materi pelajaran.
e. Key process is teaching not learning.
f. Siswa aktif membaca ketika menjelang ujian, terutama catatan.
Secara garis besar langkah – langkah dalam metode pembelajaran konvensional yaitu :
1. Persiapan, yaitu menciptakan kondisi belajar siswa.
2. Pelaksanaan, menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa, memberikan tugas kepada siswa.
3. Evaluasi, mengadakan penilaian terdahap pemahaman siswa mengenai bahan yang telah diterimanya melalui tes lisan maupun tulisan.
Terdapat beberapa perbedaan antara metode pembelajaran kooperatif dan metode pembelajaran konvensional adalah ( Abdurrahman dalam Nurhadi: 2003 )
Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran Konvensional
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
Kelompok belajar heterogen baik dalam kemampuan akademis, etnik, ras dll. Akuntabilitas individual seringa diabaikan sehingga tugas – tugas sering diborong salah satu anggota kelompok.
Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok. Kelompok belajar biasanya homogen.
Pimpinan kelompok secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok. Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan caranya masing – masing.
Keterampilan social yang dibutuhkan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan mempercayai orang lain. Keterampilan social sering tidak diajarkan secara langsung.
Guru memantau melalui observasi dan melakukan intervensi jika terdapat masalah dalam kelompok. Guru jarang melakukan observasi dan intervensi pada saat belajar kelompok sedang berlangsung.
Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok belajar kelompok. Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok belajar kelompok.
Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas.
4. Bakat Teknik
Bakat merupakan suatu potensi yang dimikili manusia sebagai bawaan. Bakat memperkenalkan suatu kondisi dimana menunjukkan potensi seorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam suatu bidang tertentu. Perwujudan dari potensi ini biasanya bukan saja bergantung pada motivasi dan kesempatan-kesempatannya untuk memanfaatkan kemampuan ini. Bakat menurut Sibuea (1992 ) merupakan suatu potensi mengenai kemampuan tertentu pada seseorang yang baru terealisasi bila ia berkesempatan untuk mengembangkannya, karena tak bisa dipungkiri secara biologis bahwa bakat itu sedikit banyak diturunkan dari satu individu ke individu lainnya melalui garis keluarga.
Menurut Semiawan ( 1997 ) bakat adalah kemampuan yang merupakan suatu yang “inherent” dalam dari seseorang yang dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Bakat merupakan sutu kondisi dimana menunjukkan suatu potensi seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam suatu bidang tertentu. Perwujudan dari potensi ini biasanya bukan saja bergantung dengan motivasi dan kesempatan-kesempatan untuk memanfaatkan kemampuan ini. Apabila tidak ada kesempatan ini maka bisa dipastikan bakatnya itu juga tidak akan berkembang pula.
Bakat tidak hanya terealisasi melalui perkembangan saja, tetapi juga melalui latihan maka bakat yang dimiliki akan semakin berkembang. Kenyataan bahwa bakat sebagai potensi bawaan dari setiap individu, maka Semiawan (1997) mengatakan bahwa bakat sebagai kemampuan bawaan yang mempunyai potensi (potensial ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Namun menurut William B. Michael dalam ( Suryabrata : 2004 ) menyatakan bahwa bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan tugas yang sedikit sekali tergantung pada latihan tentang hal tersebut.
Suatu bakat dikatakan mampu berkembang apabila dari waktu kewaktu akan selalu mengalami peningkatan. Seperti yang dikatakan Sukardi (1997) bakat adalah merupakan suatu kondisi atau suatu kualitas yang dimiliki individu yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada masa mendatang. Hal senada diungkapkan Mundar (1998) bakat (aptitude) adalah sebagai kemampuan bawaan merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud dengan memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan semasa mendatang. Menurut ( Fudyartanta : 2004 ) bakat ( talent ) adalah suatu karakteristik yang menunjukkan kapasitas seseorang untuk menguasai suatu pengetahuan khusus ( latihan ), keterampilan atau serangkaian respon yang terorganisir. Apabila bakat seseorang pada masa yang mendatang tidak mengalami kemajuan maka tidak mengalami pengembangan. Karena bakat adalah kemampuan khusus yang berkembang secara istemewa dibanding kemampuan lain.
Menurut Guilforp dalam ( Suryabrata : 2004 ), bakat dapat mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu :
a. Dimensi perseptual, meliputi kemampuan dalam mengadakan persepsi dan ini meliputi faktor – faktor lain :
1 Kepekaan indra.
2 Perhatian.
3 Orientasi ruang.
4 Kecepatan persepsi dan sebagainya.
b. Dimensi psikomotorik, mencakup enam faktor, yaitu :
5 Faktor kekuatan.
6 Faktor implus.
7 Faktor ketelitian.
8 Faktor koordinasi.
c. Dimensi intelektual, meliputi lima faktor yaitu :
9 Faktor ingatan.
10 Faktor pengenalan.
11 Faktor evaluatif.
12 Faktor berfikir konvergen.
13 Faktor berfikir difergen.
Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang propesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan yang unggul. Bakat seseorang itu dapat terwujud sebagian dapat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya keadaan lingkungan, kesempatan, sarana dan prasarananya yang tersedia, dukungan dan dorongan orang tua, tarf sosila, ekonomi, tempat tinggal dan sebagian besar ditentukan oleh keadaan individu itu sendiri. Bakat dapat tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang dan kemampuan pembawaan dan prosesnya. Mereka yang berbakat jika diberi kesempatan dan pelajaran pendidikan yang sesuai akan dapat memberi sumbangan yang bermakna kepada masyarakat dalam semua bidang usaha manusia.
Sementara itu menurut Semiawan (1997) ada dua petunjuk kunci dalam mengamati dan mengerti keberbakatan yaitu :
1. Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil intraksi dari pengaruh lingkungan.
2. Keberbakatan itu ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana seseorang itu hidup. Karena bakat itu relatif stabil, maka bakat dapat digunakan untuk membawa orang untuk memprediksi keberhasilan dalam bidang pendidikan dan memberikan suatu landasan untuk mengambil keputusan.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan, bakat adalah kemampuan bawaan sebagai potensi tertentu bagi seseorang yang terwujud apabila memiliki kesempatan untuk mengentaskannya dan melatih kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus tersebut. Maka dengan adanya bakat yang dimiliki seseorang dapat menghasilkan tingkat prestasi atau penguasaan terhadap sesuatu yang sangat memuaskan.
Teknik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2005 ) adalah pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri, bangunan – bangunan, mesin dan sebagainya. Jadi bakat teknik adalah kemampuan bawaan sebagai potensi tertentu seseorang yang berkenaan pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berhubungan dengan hasil industri, bangunan – bangunan, mesin dan sebagainya dengan, yang terwujud apabila memiliki kesempatan untuk mengentaskannya dan melatih kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus tersebut .

No comments:

Post a Comment

Post a Comment