Pages

July 29, 2010

BAB II

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


A.Deskripsi Teori
1.Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan. Belajar memegang peran penting dalam perkembangan kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan prestasi manusia sehingga seseorang harus mampu memahami bahwa aktifitas belajar itu memegang peran penting dalam proses psikologis.
Belajar pada dasarnya merupakan pengalaman yang sama dan berulang-ulang dalam situasi tertentu. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, dan pemahaman. Sedang yang dimaksud dengan pengalaman adalah proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Para ahli telah coba menjelaskan pengertian belajar dengan mengemukakan rumusan atau definisi menurut sudut pandang masing-masing. Baik bentuk rumusan atau aspek-aspek yang ditekankan dalam belajar, beda antara ahli yang satu dengan ahli yang lain. Namun perlu diketahui bahwa di samping perbedaan terdapat pula persamaan pengertian dalam definisi-definisi tersebut.
Di antaranya, pengertian belajar yaitu aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman. Tertumpu pada kemampuan diri belajar di bawah bimbingan pengajar.1
Belajar adalah sutu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya2
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk.3
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi/ pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.4

2.Pengertian Matematika
Ada beberapa definisi atau pengertian tentang matematika yaitu:
a.Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik;
b.Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan;
c.Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi;
d.Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk;
e.Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik;
f.Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat5;
Jadi dapat disimpulkan bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya untuk memudahkan berfikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

3.Prestasi Belajar
Pendidikan bertujuan antara lain mengembangkan dan meningkatkan kepribadian individu yang sedang melakukan proses pendidikan. Perkembangan kepribadian erat hubungannya dengan perubahan tingkah laku yang telah dihasilkan dan ingin mengetahui hasil perolehannya dalam suatu pendidikan dikenal dengan istilah prestasi belajar.
Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai peserta didik dalam menuntut suatu pelajaran yang menunjukkan taraf kemampuan peserta didik dalam mengikuti program belajar dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Prestasi belajar ini sering dicerminkan sebagai nilai yang menentukan berhasil tidaknya peserta didik telah belajar.

4.Tujuan Belajar
Sebelum proses belajar mengajar berlangsung, tujuan belajar harus ditetapkan terlebih dahulu, karena tujuan merupakan komponen utama dalam belajar. Tujuan belajar harus dirumuskan dengan jelas, karena dengan tujuan yang jelas akan memudahkan memilih aktifitas belajar yang efektif dan efisien. Tujuan juga bisa menyusun alat evaluasi untuk mengetahui apakah proses belajar mengajar berhasil atau tidak.
Dalam menyusun atau merumuskan tujuan belajar, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tujuan belajar harus meliputi ranah kognitif, afektif dan ranah psimotorik. Dalam bukunya Suharsimi Arikunto dijelaskan ada 6 jenis ranah kognitif antara lain pengetahuan, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.6
Krathwohl menyatakan bahwa ranah afektif terdiri atas 5 kategori yaitu: pengalaman, pemberian respon, penghargaan terhadap nilai, pengorganisasian, dan pengalaman.7
Sedangkan ranah psikomotorik terdiri atas 4 katagori yaitu: penipuan, manipulasi, ketepatan gerak, dan naturalisasi.

5.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik meliputi faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik (internal) dan faktor yang berasal dari luar peserta didik (eksternal). Kegiatan belajar dapat dikatakan berhasil apabila perubahan tingkah laku dapat dicapai.

Adapun faktor tersebut antara lain:
a.Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri atau segala sesuatu yang telah dibawa oleh manusia sejak kelahirannya, yakni fitrah suci yang merupakan bakat bawaan, sebagaimana firman Allah swt dalam surat ar-Ruum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم: 30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetapkanlah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ar-Ruum: 30).8

Selain faktor bawaan atau fitrah, faktor internal lain yang terdapat dapat dalam diri pribadi adalah pertama, pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi merupakan kemampuan individu untuk membedakan, mengelompokkan, memfokuskan, memahami, dan menanggapi pemandangan.9 Pengalaman pribadi yang dimaksud adalah pengalaman beragama, yang mana perlu diberikan sejak dalam kandungan, karena akan berpengaruh dalam pembentukan pribadi yang agamis.
Menurut Zakiah Darajat, pengalaman pribadi seorang anak (peserta didik) yaitu dimulai sejak sebelum dia masuk sekolah, yakni ketika dia memperoleh banyak pengalaman di rumah, mulai dari orang tua dan seluruh anggota keluarganya sampai teman-teman sebayanya.10
Kedua, pengaruh emosi. Emosi merupakan perasaan gejolak jiwa, yakni suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang dialami seseorang, baik itu senang maupun tidak senang.11 Emosi memegang peranan yang penting dalam sikap dan tindakan agama, karena tidak ada satu tindakan agama seseorang yang dapat dipahami tanpa memperhatikan emosinya.12

b.Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar pribadi manusia atau berasal dari orang lain atau lingkungannya. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:

1)Pengaruh Orang Tua
Mendidik anak merupakan tanggung jawab utama orang tua. Peran orang tua menjadi penting dalam mendidik anak-anaknya, baik dalam sudut pandang agama, sosial kemasyarakatan maupun individu.13 Dalam keluarga hendaknya tercipta hubungan timbal balik dalam pendidikan, sebab dalam keluarga inilah orang tua menjadi suri tauladan utama, terutama dalam aktivitas beragama.

2)Pengaruh Guru
Guru merupakan orang kedua setelah orang tua yang dapat mempengaruhi akhlak anak (peserta didik), yakni melalui kepribadian dan keteladanannya, sehingga guru hendaknya berkepribadian yang mencerminkan agama, sebagaimana yang telah dan akan diajarkan kepada peserta didiknya.14

3)Pengaruh Lingkungan Masyarakat
Keberagamaan seseorang (peserta didik) juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakatnya, hal ini dikarenakan dalam kehidupan masyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan nilai yang didukung oleh warganya. Oleh karena itu, setiap warga – termasuk peserta didik – harus bersikap dan berakhlak yang sesuai dengan norma dan nilai yang ada tersebut.
Lingkungan masyarakat yang agamis dapat menciptakan dan memperkuat jiwa keberagamaan seseorang, yang mana fungsi dan peran tersebut sangat bergantung pada seberapa jauh masyarakat tersebut menjunjung tinggi norma dan nilai yang ada.15

4)Pengaruh Lembaga Pendidikan (Sekolah)
Pendidikan agama di sekolah, bagaimanapun juga akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan keberagamaan peserta didik. Namun demikian, besar kecilnya pengaruh tersebut sangat tergantung pada beberapa faktor yang dapat memotivasi peserta didik dalam memahami nilai-nilai agama, sebab pada hakikatnya pendidikan agama merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.16

6.Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw

a.Pengertian pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
Model Kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih.17 Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini, siswa merupakan bagian dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar.
Kooperatif tipe Jigsaw ini juga memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh oleh guru, melainkan bisa juga dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya. Jadi keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan itu akan baik bila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Kooperatif tipe Jigsaw didasari oleh pemikiran filosofis “Getting Better Together” yang berarti untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dalam belajar hendaknya dilakukan secara bersama-sama.18 Dalam bukunya Muhammad Nur juga dijelaskan bahwa peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.19

Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan efektif dan efisien.20 Model pembelajaran yang dimaksud adalah yanng bisa meningkatkan kemampuan akademik, melatih kemampuan berbicara, sekaligus menanamkan moralitas kepada peserta didik. Secara teoritis untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya dengan mengembangkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
Dalam pembelajaran Cooperative terdapat bermacam-macam tipe, salah satunya adalah pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Jigsaw merupakan salah satu tipe metode pembelajaran Cooperative dengan dasar Jigsaw. Riset tersebut dengan konsisten menunjukkan bahwa peserta didik yang terlibat dalam pembelajaran semacam itu memperoleh prestasi yang lebih baik, dan mempunyai sikap yang lebih baik pula terhadap pembelajaran

Jigsaw merupakan sebuah adaptasi dari pembelajaran yang dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan di Universitas Texas. Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw merupakan pembelajaran Kooperatif yang terdiri dari tim-tim belajar yang heterogen beranggotakan 4 sampai dengan 5 orang peserta didik. Materi pembelajaran diberikan kepada peserta didik dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mengajari bagian tersebut kepada anggota tim yang lain.
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi juga harus siap memberikan dan menjabarkan materinya tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Dengan demikian peserta didik saling tergantung dengan yang lain dan harus bekerjasama secara Kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Setiap kelompok akan menerima lembar ahli yang berbeda sesuai dengan jumlah anggota kelompok. Setiap anggota kelompok yang mendapat lembar ahli yang sama, bertemu untuk berdiskusi yang disebut kelompok ahli. Kemudian peserta didik kembali kepada kelompok asal untuk menerangkan kepada anggota kelompok asal apa yang sudah didapatkan dalam kelompok ahli.
Pada strategi pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli.

b.Ilustrasi Kelompok Kooperatif tipe Jigsaw .
Para anggota dari kelompok asal yang mendapatkan lembar ahli yang berbeda, bertemu dengan anggota kelompok ahli yang mendapatkan lembar ahli yang sama kemudian mendiskusikan dalam kelompok ahli, Serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok semula (kelompok asal) dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Di akhir pembelajaran, peserta didik diberi evaluasi secara individu mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interpendensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan soal-soal latihan dengan baik.
Penjelasan dari langkah-langkah pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:

1)Persiapan
a)Bahan ajar
Bahan ajar pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara kelompok sebelum menyajikan materi pembelajaran dibuat lembar ahli yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok Kooperatif .
b)Menetapkan siswa dalam tim
Pada pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw terdapat dua macam kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Pembentukan kelompok asal biasanya dilakukan oleh guru. Setiap kelompok terdiri dari 4 sampai dengan 5 orang peserta didik.

Terdapat beberapa petunjuk dalam menetapkan kelompok asal:
(1)Menentukan skor data awal (pre test)
Skor awal merupakan skor rata-rata peserta didik secara individual pada evaluasi sebelumnya atau nilai pretes secara individual.
(2)Merangking Peserta Didik
Kegiatan ini dilakukan berdasarkan hasil belajar peserta didik semester sebelumnya. Selain itu dapat juga menggunakan hasil ulangan sebelumnya.
(3)Menentukan Jumlah Anggota Tim.
Setiap tim hendaknya terdiri dari 4 sampai dengan 5 orang peserta didik dengan kemampuan yang heterogen.
(4)Menempatkan Peserta Didik Dalam Tim.
Setelah menentukan jumlah kelompok, kemudian dilakukan pembagian peserta didik. Penetapan peserta didik dalam kelompok hendaknya seimbang dan heterogen terutama dilihat dari aspek kognisi peserta didik.
(5)Menetapkan Peserta Didik Dalam Kelompok Ahli.
Kelompok ahli dibentuk sendiri oleh anggota kelompok asal dengan cara berdiskusi menentukan wakil dari kelompoknya untuk menjadi ahli dalam tugas tertentu. Mereka memilih orang yang tepat yang dapat membantu menjelaskan kepada anggota kelompok yang lainnya sehingga memperoleh pemahaman yang sama.
(6)Menentukan Skor Data Akhir (Post test).
Skor akhir merupakan skor rata-rata peserta didik secara individual pada evaluasi sebelumnya atau nilai akhir secara individual. Untuk mengetahui apakah terjadi perubahan nilai peserta didik setelah dikenai pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Dengan jalan menguji normalitas data awal, menguji kesamaan dua varians dan menguji kesamaan dua rata-rata. Soal yang diberikan untuk instrumen, sebelumnya sudah diujicobakan pada kelas yang berbeda yaitu kelas uji coba.

2)Tahap Pembelajaran.
Untuk menerapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada pembelajaran matematika guna mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah, maka dapat ditempuh dengan tahapan sebagai berikut :

a)guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi peserta didik untuk belajar.
b)Guru menjelaskan kepada peserta didik bahwa akan menerapkan model pembelajaran Jigsaw, para peserta didik harus mengetahui dengan tepat tata aturan penerapan model pembelajaran Jigsaw..
c)Guru membentuk kelompok, yang masing-masing kelompok yang terdiri atas 4 sampai 5 peserta didik yang heterogen, yang disebut dengan kelompok asal.
d)Guru membagi lembar ahli pada tiap kelompok, tiap kelompok mendapatkan lembar ahli sesuai jumlah kelompoknya.
e)Guru meminta setiap kelompok untuk menentukan wakil kelompoknya untuk mempelajari lembar ahli tertentu.
f)Guru meminta peserta didik yang memiliki lembar ahli yang sama untuk membentuk kelompok yang disebut dengan kelompok ahli. Jelas, posisi tempat duduk harus diatur sedemikian rupa sehingga para peserta didik dapat saling bertatap muka.
g)Guru meminta peserta didik yang bekerja dalam kelompok ahli untuk kembali ke kelompoknya masing-masing (kelompok asal).
h)Kemudian peserta didik itu bergantian mengajar teman dalam satu kelompok (kelompok asal), seakan-akan tidak ada sedikitpun peran guru dalam perumusan kesimpulan.
i)Setiap kelompok mengumpulkan lembar hasil diskusi kelompoknya.
j)Peserta didik bersama guru membahas membahas lembar ahli.
k)Peserta didik bersama guru merangkum materi yang telah dipelajari pada pertemuan tersebut.
l)Guru meminta peserta didik untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

3)Evaluasi Mandiri dan Penghargaan Kelompok
Setelah selesai menjelaskan pembelajaran, peserta didik harus menunjukkan apa yang dipelajari selama bekerja kelompok dengan menggunakan tes hasil belajar secara individual. Skor dari masing-masing individu ini selanjutnya diperhitungkan untuk menentukan skor kelompok asalnya.

Dalam penentuan skor tim, skor tim dihitung dengan menambahkan tiap-tiap individu anggota tim dan membagi dengan jumlah anggota tim tersebut. Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok terdapat tiga tingkat penghargaan yaitu:
a.kelompok dengan rata-rata 15 poin, mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik (good team).
b.Kelompok dengan rata-rata 20 poin, mendapatkan penghargaan sebagai kelompok hebat (great team).
c.Kelompok dengan rata-rata 25 poin, mendapatkan penghargaan sebagai kelompok super (super great team).

7.Materi Pokok Komposisi fungsi.
a.Pengertian Komposisi Fungsi
Suatu fungsi dapat dikombinasikan atau digabungkan dengan fungsi lain, dengan syarat tertentu, sehingga menghasilkan fungsi baru, fungsi baru hasil kombinasi fungsi-fungsi sebelumnya ini dinamakan komposisi fungsi. Perhatikan ilustrasi melalui bagan sederhana berikut ini.


b.Sifat-Sifat Dari Komposisi Fungsi
Komposisi memilikisifat-sifat sebagai berikut:
1)Komposisi fungsi memiliki sifat asosiatif, yaitu

karena persamaan ini berlaku untuk setiap x, maka menurut kesamaan dua fungsi terbukti.
2)Ada elemen identitas yakni , artinya untuk setiap akan berlaku
adalah fungsi identitas.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh dibawah ini:
Diketahui ditentukan oleh rumus fungsi identitas pada R ditentukan oleh rumus .

B.Kajian Penelitian Yang Relevan
Telaah pustaka digunakan sebagai bahan perbandingan terhadap penelitian atau karya ilmiah yang ada, baik mengenai kekurangan ataupun kelebihan yang ada sebelumnya. Selain itu, telaah pustaka juga mempunyai andil besar dalam rangka mendapatkan suatu informasi yang ada sebelumnya tentang teori yang berkaitan dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah.
Pertama, dalam skripsinya yang berjudul "Studi Komparasi Antara Antara Sikap Siswa Yang Berasal Dari Mi Dengan Siswa Yang Berasal Dari SD Terhadap Pendidikan Agama Islam Di MTs ", lulus tahun 2006 yang dalam pembahasannya menghubungkan siswa yang berasal dari MI dengan siswa yang berasal dari SD terhadap Pendidikan Agama Islam di.

Kedua, dalam skripsinya berjudul “Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pada Sub Pokok Bahasan Balok Kelas VIII 2006/2007”, lulus tahun 2007, memaparkan tentang bagaimana daya serap siswa yang di kenai pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw terhadap pemahaman konsep pada sub pokok bahasan balok.
Ketiga, yang berjudul “Keefektifan Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Terhadap Kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIII SMP”, lulus tahun 2007, penelitian ini hanya memaparkan bagaimana kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw.
Keempat, dalam skripsinya berjudul “Keefektifan Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Pada Sub Pokok Bahasan segi empat siswa kelas VII tahun pelajaran 2006/2007”, lulus tahun 2007, isinya memaparkan bagaimana daya serap siswa yang dikenai pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw terhadap pemahaman konsep pada sub pokok segi empat.
Menurut analisa penulis, dari berbagai kajian yang telah penulis sebutkan di atas belum ada yang membahas tentang bagaimana hasil belajar/prestasi peserta didik yang dikenai pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw dengan peserta didik yang dikenai pembelajaran ekspositori. Oleh karena itu layak kiranya jika penulis mengangkat judul tersebut sebagai bahan kajian yang akan disusun dalam bentuk skripsi, yang nantinya diharapkan dapat memberikan sumbangsih kekayaan wacana dalam dunia pendidikan.

C.Pengajuan Hipotesis

Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah hasil belajar peserta didik yang dikenai pembelaran Kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dari psda hasil belajar peserta didik yang dikenai pembelajaran ekspositori dalam pokok bahasan komposisi fungsi.

No comments:

Post a Comment