Pages

June 15, 2010

Bab 2

BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.Deskripsi Teori
Dalam deskripsi teori ini akan dibahas tentang teori-teori yang menunjang dalam penelitian yaitu : Hakikat Pembelajaran IPA, Metode Demonstrasi Kuliner, Hasil Belajar, Materi Perubahan Fisika dan Perubahan Kimia, serta pengaruh metode demonstrasi kuliner terhadap hasil belajar IPA pada materi pokok perubahan fisika dan perubahan kimia.
.
1.Hakikat Pembelajaran IPA
Berhubung penelitian ini lebih difokuskan pada pendidikan IPA maka perlu kita ketahui terlebih dahulu apakah hakikat pembelajaran IPA.
a.Pengertian Belajar
Sebelum menjelaskan tentang hakikat pembelajaran IPA, terlebih dahulu akan dijelaskan beberapa pengertian belajar.
1)Belajar menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning mengemukakan :
Learning is the process by which an activity originates or is changed through reacting to an encountered situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot be explained on the basis of native response tendencies, maturation, or temporary states of the organism (e.g., fatigue, drugs, etc.)1

Belajar adalah sebuah proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dan karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan kecenderungan-kecenderungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan-perubahan sementara dari organisme (misalnya kesalahan, obat-obatan dan sebagaianya).
2)Learning can be defined as any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as result of experience.2
“Belajar dapat diartikan sebagai perubahan permanen secara relatif pada tingkah laku organisme yang berakibat pada suatu hasil pengalaman”.

3)Belajar menurut Thursan Hakim sebagaimana dikutip Pupuh Fathur Rohman dan Sbry Sutikno, sebagai berikut :
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuannya.3

4)Belajar menurut Sholeh Abdul Aziz dan abdul Aziz Abdul Majid dalam bukunya at Tarbiyah wa Thuruqu at Tadris, Juz 1 mengemukakan :
ان التعلم هو تغيير في ذهن المتعلم يطرا على حبرة سابقة فيحدث فيها تغييرا جد يدا 4
“Sesungguhnya belajar adalah usaha untuk merubah diri pelajar yang didasari dengan pengalaman yang telah diterima sehingga terjadi perubahan baru bagi diri pelajar”.

Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa kegiatan belajar hendaknya lebih diarahkan pada pengalaman belajar langsung (menghadapi sebuah situasi maupun karakteristik dari perubahan aktivitas yang tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon bawaan, kematangan/ keadaan sesaat seseorang), sehingga perubahan yang diharapkan dalam proses belajar dapat tercapai.

b.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar dapat diamati dari perbedaan perilaku (kinerja) sebelum dan setelah berada di dalam belajar adanya kinerja pada setiap orang sudah barang tentu tidak berarti bahwa orang itu telah melaksanakan kegiatan belajar, sebab yang dipentingkan dalam makna belajar adalah adanya perubahan perilaku setelah seseorang melaksanakan pembelajaran. Untuk mengetahui perbedaan tersebut harus terlebih dahulu dilakukan pengukuran mengenai kemampuan apa dan seberapa banyak kemampuan itu telah dan baru dimiliki oleh pembelajar. Seperangkat faktor yang memberikan kontribusi belajar adalah :
1)Kondisi Internal Pembelajar
a)Kondisi fisik, seperti kesehatan organ tubuh;
b)Kondisi psikis, seperti kemampuan intelektual;
c)Kondisi sosial, seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.
2)Kondisi Eksternal Pembelajar
a)Variasi dan derajad kesulitan materi (stimulus) yang dipelajari (direspon)
b)Tempat belajar, iklim, suasana lingkungan dan budaya masyarakat .5

c.Pengertian Pembelajaran IPA
Pembelajaran atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya dengan pengajaran merupakan proses interaksi yang berlangsung antara guru dan juga siswa atau juga merupakan sekelompok siswa dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap serta menetapkan apa yang dipelajari itu.6 Sedangkan Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”. Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA  meliputi empat unsur utama yaitu:
1)Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru  yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA  bersifat open ended.
2)Proses: prosedur pemecahan masalah  melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
3)Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.
4)Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA  yang utuh yang  sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Dalam proses pembelajaran IPA  keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru.7 Dengan kata lain, pembelajaran IPA adalah suatu proses pembelajaran yang melibatkan kegiatan ilmiah, yaitu kegiatan berfikir dan eksperimen, yang di dalamnya terdapat proses mengamati, menganalisis, pemecahan masalah hingga penarikan kesimpulan yang bermuara pada penemuan fakta. Semua kegiatan tersebut sebagian besar akan lebih mudah jika pelaksanaannya dengan metode demonstrasi kuliner.

2.Metode Demonstrasi Kuliner
Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa yunani “metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata : yaitu “metha” yang berarti melalui dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.8 Metode menurut M.Athiyah Al-Ibrasyi dalam kitab Ruuhu At-Tarbiyah Wa At-Ta’limi Adalah:
الطريقة : هي الوسيلة التي نتبعها لتفهيم التلاميذ اى درس من الدروس, فى اية مادة من المواد .9
“Metode adalah perantara yang mengikutinya untuk memahamkan murid-murid terhadap pelajaran yang dipelajari dari beberapa pelajaran, didalam materi dari beberapa materi.”

Sedangkan kata demonstrasi diambil dari “Demonstration “(to show) yang artinya memperagakan atau memperlihatkan proses kelangsungan sesuatu.10 Jadi metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang sesuatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.11 Sedangkan Istilah Kuliner diserap dari bahasa Inggris, yakni culinary. Dalam kamus dwibahasa An English-Indonesian Dictionary karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, istilah tersebut diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan dapur atau masakan.12
Jadi metode demonstrasi kuliner yang dimaksudkan dalam penelitian kali ini adalah suatu cara untuk menunjukkan proses kelangsungan sesuatu hal melalui segala sesuatu yang berhubungan dengan dapur atau masakan untuk memperoleh pemahaman secara konkrit.
Dari pengertian demonstrasi kuliner di atas maka dapat disebutkan beberapa unsur-unsur demonstrasi kuliner, antara lain:
1)alat yang di peragakan atau dipertunjukkan kepada siswa.
2)pihak yang menjalankan dan yang mengamati (guru dan siswa).
3)bahan yang di demonstrasikan adalah segala sesuatu bersumber dari dapur.

a.Batasan-batasan Demonstrasi
1)Demonstrasi akan merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh pelajar.
2)Demonstrasi akan menjadi kurang efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas dimana para pelajar sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman pribadi.
3)Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelompok.
4)Kadang-kadang, bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, terjadi proses yang berlainan dengan proses dalam situasi sebenarnya.13


b.Langkah-langkah Menggunakan Demonstrasi
1)Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan :
a)Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan tertentu.
b)Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis-garis besar langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
c)Langkah uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.

2)Tahap Pelaksanaan Demonstrasi
a)Langkah Pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
(1)Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
(2)Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
(3)Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi
b)Langkah Pelaksanaan Demonstrasi
(1)Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berfikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatian demonstrasi.
(2)Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
(3)Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa.
(4)Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
c)Langkah Mengakhiri Demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami prosess demonstrasi itu atau tidak. 14

c.Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi Kuliner
1)Kelebihan Metode Demonstrasi Kuliner
a)Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b)Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari
c)Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa
d)Menambah aktivitas belajar siswa karena ia turut melakukan kegiatan peragaan.
e)Menghemat waktu belajar di kelas memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas.15
f)Menanggulangi keterbatasan gedung laboratorium bagi sekolahan yang belum memiki.
g)Bahan yang digunakan untuk demonstrasi relatif lebih mudah didapat dan murah karena siswa dapat membawa dari dapur rumah mereka sendiri.

2)Kekurangan Metode Demonstrasi Kuliner
a)Metode demonstrasi memerlukan periapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.16
b)Bila siswa tidak aktif maka metode demonstrasi menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, setiap siswa harus diikut sertakan dan melarang mereka berbuat gaduh17
c)Demonstrasi akan kurang efektif jika harus menggunakan kompor bisaa karena akan menghambat proses persiapan.

3.Hasil Belajar
a.Hasil Belajar Ranah Kognitif
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar itu telah terjadi.18
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.19
Jadi hasil belajar ranah kognitif dapat diartikan sebagai perubahan perilaku pembelajar setelah mengalami perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan, yang kesemuanya mencakup kegiatan mental (otak).

b.Macam-Macam Hasil Belajar Ranah Kognitif
Klasifikasi hasil belajar aspek kognitif dari Benyamin Bloom berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.20 Adapun penjabaran dari masing-masing aspek adalah sebagai berikut.21


1)Pengetahuan/ ingatan (knowledge)
Pengetahuan/ingatan didefinisikan sebagai proses mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, mencakup proses mengingat semua hal, dari fakta-fakta yang sangat khusus sampai yang kompleks. Tetapi semua ini memerlukan cara penyimpanan informasi yang tepat. Jenjang ingatan ini merupakan kumpulan kemampuan/ hasil belajar yang masih rendah tingkatannya.
2)Pemahaman (comprehension)
Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi yang dipelajarinya, hal ini dapat ditunjukkan dengan:
a)Menerjemahkan materi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain (misalnya dari bentuk kata-kata ke bentuk angka-angka)
b)Menginterpretasikan materi dalam arti menjelaskan atau meringkas materi yang dipelajarinya.
c)Meramalkan arah/ kecenderungan masa yang akan datang (meramalkan akibat sesuatu)
Jenjang pemahaman ini satu tingkat lebih tinggi daripada jenjang ingatan.
3)Penerapan (application)
Penerapan didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi konkrit yang baru. Kemampuan ini mencakup peraturan, hukum, metode, konsep, prinsip, teori. Kemampuan dalam jenjang penerapan ini memerlukan tingkat pengertian yang lebih tinggi daripada jenjang pemahaman.
4)Analisis (analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menguraikan suatu materi ke dalam bagian-bagiannya, sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jenjang kemampuan ini mencakup identifikasi bagian-bagian, analisis hubungan antar bagian, pengenalan prinsip-prinsip organisasi yang digunakan. Kemampuan jenjang analisis ini menunjukkan tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada kemampuan jenjang pemahaman, maupun jenjang penerapan. Karena jenjang analisis menurut pengertian tentang isi dan bentuk struktur materi.
5)Sintesis (synthesis)
Sistesis merupakan kemampuan untuk menggabungkan bagian-bagian menjadi suatu bentuk keseluruhan/ kesatuan yang baru.
6)Evaluasi (evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu materi (pernyataan, novel, puisi, laporan penelitian) untuk tujuan-tujuan yang ditentukan. Pertimbangan-pertimbangan ini didasarkan pada criteria-kriteria yang jelas.



4.Materi Perubahan Fisika dan Perubahan Kimia
Adapun standar kompetensi yang ingin dicapai dalam materi perubahan fisika dan kimia adalah : Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan perubahan kimia.
a.Materi
Materi (matter) adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa, dan kimia (chemistry) ilmu tentang materi dan perubahannya serta energi-energi yang menyertainya. Pada prinsipnya, semua materi dapat berada dalam tiga wujud: padat, cair, gas. Padatan adalah benda yang rigid dengan bentuk yang pasti. Cairan tidak serigid padatan dan bersifat fluida, yaitu dapat mengalir dan mengambil bentuk sesuai wadahnya. Seperti cairan, gas bersifat fluida, tetapi tidak seperti cairan, gas dapat mengembang tanpa batas.22

b.Beberapa Sifat Umum dari Gas, Cairan dan Zat Padat
1)Gas
a)Molekul-molekul gas sangat berjauhan sehingga banyak ruang kosong diantara, sehingga gas mudah dimampatkan.
b)Molekul-molekul gas sangat berjauhan sehingga cepat sekali berdifusi dibandingkan dengan cairan atau zat padat.
c)Molekul-molekul gas sangat berjauhan sehingga banyak ruang kosong diantara dan dapat bergerak bebas dengan demikian volume dan bentuknya tidak tetap.
2)Cairan
a)Molekul-molekul cairan sangat berdekatan sehingga hanya sedikit ruang kosong diantara, yang berarti cairan tidak dapat dimampatkan.
b)Molekul-molekul cairan sangat berdekatan (tersusun rapat), tetapi dapat bergerak sehingga molekul-molekulnya lebih lambat berdifusi dibandingkan dengan gas.
c)Cairan memiliki volume tetap dan akan membuat bentuk sesuai dengan wadah yang ditempati.
3)Zat padat
a)Molekul-molekul zat padat sangat berdekatan dan terikat kuat pada tempatnya sehingga hanya sedikit ruang kosong diantara, yang berarti zat padat tidak dapat dimampatkan.
b)Molekul-molekul zat padat tidak dapat bergerak bebas.
c)Zat padat memiliki volume dan bentuk tetap.23
Perbedaan susunan molekul ketiga wujud zat di atas dapat dilihat dalam gambar.1.

c.Sifat Materi
1)Sifat Ekstensif dan Intensif
a)Sifat Ekstensif
Sifat ekstensif adalah sifat yang tergantung dari ukuran dari sampel yang diperiksa. Misalnya massa dan volume; bila ukuran sampel naik maka massa dan volumenya juga akan naik.
b)Sifat Intensif
Sifat intensif adalah sifat yang tidak tergantung dari ukuran sampel. Beberapa contoh adalah sifat-sifat fisik seperti warna, titik leleh dan titik didih.24

2)Sifat Fisis dan Sifat Kimia
a)Sifat Fisis
Sifat fisis adalah sifat yang dapat diamati tanpa harus mengubah susunan materi.
b)Sifat Kimia
Sifat kimia adalah sifat yang dapat diamati akibat terjadi perubahan suatu materi menjadi materi lain.25

d.Perubahan Wujud Materi
Ada tiga wujud materi yakni, padat, cair dan gas. Ketiga wujud materi ini dapat berubah dari wujud satu menjadi wujud yang lain. Dengan pemanasan, suatu padatan akan meleleh menjadi cairan. Pemanasan lebih lanjut akan mengubah cairan menjadi gas. Disisi lain, pendinginan gas akan mengembunkannya menjadi cairan. Pendinginan lebih lanjut akan membuatnya menjadi padat.26
Perubahan wujud materi terjadi karena adanya perubahan energi yang terkandung dalam materi, seperti diakibatkan oleh pemanasan atau pendinginan. Perubahan tersebut akan mempengaruhi kekuatan gaya tarik antar-partikel penyusun materi tersebut. Semakin besar gaya tarik antar partikel, maka semakin dekat jarak antar-partikel demikian pula sebaliknya.27
1)Perubahan Fisika
Warna, kilap, dan kekerasan adalah beberapa sifat fisis yang dapat digunakan untuk menerangkan penampilan sebuah objek. Suatu proses perubahan penampilan fisis dari suatu objek dengan identitas dasar tak berubah disebut perubahan fisika. Contoh sebuah kubus logam tembaga dapat dipipihkan menjadi lempeng yang sangat tipis; tembaga adalah logam yang dapat ditempa. Tembaga juga dapat dibuat menjadi kawat yang sangat halus. Melelehnya es dan mendidihnya air juga merupakan contoh perubahan fisika.28
Adapun contoh perubahan fisika yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah.
a)Es balok yang mencair.
b)Air menguap menjadi uap.
c)Beras yang digiling menjadi tepung beras.
d)Batang pohon dipotong-potong menjadi kayu balok.
e)Sayuran yang dipotong-potong menjadi kecil.
f)dll.
2)Perubahan Kimia
Perubahan kimia adalah perubahan yang mengakibatkan hilangnya zat-zat dan terbentuknya zat-zat baru.29 Perubahan kertas, pengkaratan besi, dan pembusukan kayu adalah perubahan-perubahan yang tidak hanya mencakup keadaan fisik, tetapi juga identitas dasarnya. Dalam perubahan kimiawi suatu contoh materi diubah secara sempurna menjadi bahan yang berbeda.30
Adapun contoh perubahan kimia yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah.
a)Beras menjadi bubur.
b)Ubi menjadi tape.
c)Sayuran yang membusuk.
d)Telur mentah menjadi matang.
e)dll.

5.Pengaruh Metode Demonstrasi Kuliner terhadap Hasil Belajar IPA pada Materi Pokok Perubahan Fisika dan Perubahan Kimia
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat dicapai.31
Athur A Carin dan Robert B Sund mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur berlaku umum dan berupa data hasil observasi dan eksperimen.32 Dan dalam pencapaian tujuan pembelajaran IPA ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendidikan IPA di sekolah, antara lain:
a.Sarana dan prasarana atau fasilitas pendidikan IPA
b.Kreativitas guru.33
Fakta yang sering kita jumpai bahwa sebagian besar sekolahan swasta pinggiran masih belum mempunyai gedung laboratorium beserta kelengkapan alat dan bahannya. Akibatnya dalam pokok materi tertentu yang harusnya ada sebuah percobaan atau eksperimen terpaksa tidak dilaksanakan sehingga tujuan diadakannya percobaan tidak dapat dicapai, akhirnya daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menjadi tidak maksimal. Sehingga pemilihan metode demonstrasi sebagai salah satu metode pembelajran dirasa sangat tepat dalam mengatasi sarana dan prasarana atau fasilitas pembelajaran IPA. Khusus pada materi pokok Perubahan Fisika dan Perubahan kimia, pemilihan metode demonstrasi kuliner akan lebih tepat untuk mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana, karena contoh-contoh dari perubahan fisika dan kimia jauh lebih sering teramati dalam lingkup dapur yang berkaitan dengan kuliner.
Bertolak dari hal tersebut di atas tampak bahwa sarana dan prasarana dalam pembelajaran IPA serta kreativitas guru dalam memilih metode yang tepat merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan belajar IPA . Dengan demikian metode demonstrasi kuliner merupakan salah satu metode yang tepat dalam pencapaian tujuan belajar IPA khususnya materi pokok perubahan fisika dan perubahan kimia.

B.Kajian Penelitian Yang Relevan
Eva Syarifah Nurhayati (NIM. 103011026633) mahasiswa, Jurusan Pendidikan Agama Islam lulus tahun 2008. Dalam penelitiannya yang berjudul “Efektifitas Metode Demonstrasi pada pembelajaran Bidang Studi Fiqih di MTs”, menyatakan bahwa metode demonstrasi efektif digunakan pada bidang studi fiqih di MTs. Keefektifan metode ini disebabkan mamberi kemudahan pada siswa dalam memahami pelajaran fiqih yang yang bersifat praktek atau peragaan, seperti praktek wudlu, tayamum, shalat dan lain-lain. Keefektifan Metode Demonstrasi pada pembelajaran Bidang Studi Fiqih di MTs terbukti dari hasil angket pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan dengan metode demonstrasi, 47% pemilih jawaban jelas sekali data ini membuktikan akan tepatnya pemakaian metode demonstrasi pada mata pelajaran fiqh. Adapun yang menjawab jelas sebanyak 43% data ini merupakan pemilihan siswa yang kadar daya tangkapnya berada di bawah siswa yang memilih jawaban pertama dan kedua sama-sama memperoleh pemahaman namun yang dirasakan siswa pertama lebih jelas dibandingkan siswa yang memilih jawaban kedua, dan 10% siswa menjawab bisaa saja dan tidak seorangpun yang memilih tidak jelas dalam pelajaran fiqh yang didemonstrasikan. Berdasarkan data angket yang diperoleh dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa mendapatkan pemahaman yang jelas pada mata pelajaran fiqh dengan metode demonstrasi sehingga metode ini efektif dalam pembelajaran bidang studi Fiqih di MTs.
Siti Nur’aini (NIM. 043111008) mahasiswa lulus tahun 2009. Dalam penelitiannya yang berjudul “Efektifitas Pembelajaran PAI dengan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Retensi Siswa pada SK-KD Shalat Siswa Kelas VIII semester ganjil di SMP Negeri Tahun Ajaran 2008/ 2009 ”, menyatakan bahwa metode demonstrasi dapat membuat siswa belajar aktif melalui berbuat yang melibatkan indera yang dimilikinya sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan retensi siswa pada pembelajaran PAI SK-KD Shalat pada kpelas VIII D SMPN. Hal ini terbukti dari hasil tes menunjukkan bahwa siswa mampu menghemat konsep yang telah ia pelajari pada 1 minggu ke depannya dengan perkataan lain materi yang masih membekas pada ingatan siswa. Pada siklus I dengan rata-rata penghematan 70,27% pada siklus II rata-rata penghematan 83,08%, pada siklus III rata-rata penghematan 88,93%. Dari hasil tes tersebut dapat dilihat terjadi peningkatan pada tiap siklusnya.
Tabah Nur Ekawati (NIM. 4314000014) Mahasiswa lulus tahun 2007. Dalam penelitiannya yang berjudul “ Komparasi antara Pembelajaran menggunakan Logika Hipotesis Deduktif melalui Metode Demonstrasi dan Konstruktivis dengan Jigsaw terhadap Hasil Belajar Pokok Materi Termokimia”, Menyatakan bahwa pembelajaran siswa kelas XI program IPA di SMA dengan pendekatan logika hipotesis deduktif menggunakan metode demonstrasi menghasilkan nilai rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi yaitu 69,25 dibandingkan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis menggunakan metode jigsaw dengan nilai rata-rata hasil belajar sebesar 59,55.
Hasil penelitian yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa metode Demonstrasi sangat efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada materi pembelajaran yang membutuhkan suatu peragaan. Dari ketiga penelitian di atas belum ditemukan pembahasan yang secara khusus tentang pengaruh metode demonstrasi kuliner dalam pembelajaran IPA sehingga pembahasan ini layak untuk diangkat dan di teliti.

C.Pengajuan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah, sehingga harus diuji secara empiris. hipotesis berasal dari kata “hypo” yang berarti dibawah dan “thesa” yang berarti kebenaran.34 Dalam penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah :
1.Hipotesis nol (H0) : tidak ada pengaruh penerapan metode demonstrasi kuliner terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VII semester II pada materi pokok perubahan fisika dan perubahan kimia di MTs
2.Hipotesis alternatif (H1) : Ada pengaruh penerapan metode demonstrasi kuliner terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VII semester II pada materi pokok perubahan fisika dan perubahan kimia di MTs.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment