Pages

October 06, 2009

Keanekaragaman Sumber Pangan

KEANEKARAGAMAN SUMBER PANGAN

I. PENDAHULUAN

Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada dibawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Lebih dari seperempat anak usia dibawah 5 tahun memiliki berat badan di bawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42% anak dibawah umur 5 tahun mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil); suatu indikator jangka panjang yang cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi. Gizi yang buruk dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas angkatan kerja. Ini juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk dan dalam kemiskinan.
Adanya pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, dan kompetisi pemanfaatan sumber daya lahan dan air yang tinggi, serta degradasi sumber daya alam dan lingkungan akan mengancam pemantapan ketahanan pangan yang dapat mengakibatkan krisis pangan. Menyadari hal itu, Pemerintah telah mencanangkan revitalisasi pertanian. Salah satu sasaran revitalisasi pertanian adalah pencapaian ketahanan pangan yang berkelanjutan dan eningkatan kesejahteraan petani. Hal ini dapat dicapai apabila dapat dipelihara dan ditingkatkannya kemampuan nasional dalam memproduksi pangan. Kemampuan ini dapat dibangun antara lain dengan memanfaatkan keanekaragaman sumber daya genetik untuk merakit varietas unggul yang dapat merespon dinamika permintaan dan perubahan lingkungan.

II. POKOK PERMASALAHAN.

Untuk memudahkan dan menfokuskan pembahasan, dalam makalah ini kami menyusun dalam beberapa pokok permasalahan, antara lain :
1. Apakah pengertian sumber pangan?
2. Bagaimana keadaan sumber pangan di Indonesia, permasalahan-permasalahannya?
3. Bagaimana upaya pemerintaah dalam pemenuhan kebutuhan pangan ?
4. Apa saja sumber pangan alternatif potensial dan teknologi pengembangan yang bisa diterapkan?

III. PEMBAHASAN
a. Pengertian Sumber Pangan

Semua makhluk hidup membutuhkan makanan, terlebih dizaman yang sedemikian modern teknologi pangan sudah sedemikian maju, ironis sekali apabila melihat keadaan bangsa ini yang masih tertatih-tahih untuk mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Perkembangan dewasa ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Dari sinilah lahir konsep pangan fungsional. Oleh sebab itu pangan hendaknya bukan sekedar sebagai sesuatu yang bisa dimakan.tetapi juga harus memiliki manfaat.
Definisi pangan menurut Badan POM adalah sumber makanan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh masyarakat. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme.
Jadi dapat disimpulkan, sumber pangan berarti segala potensi makanan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat , sehat, layak dan memeliki kandungan yang bermanfaat.

b. Keadaan Sumber Pangan di Indonesia dan Permasalahan-Permasalahannya

Sebuah bangsa dapat dikatakan sejahtera apabila seluruh rakyatnya dapat merasa berkecukupan. Baik pakan, sandang, maupun papan, pangan sebagai kebutuhan primer, mau tidak mau harus menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi, karena pangan menyangkut kelangsungan hidup. Sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki peringkat jumlah penduduk terbesar di dunia, pangan menjadi permasalahan yang sering dialami.
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena itu pemenuhan atas pangan menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Karena itu, pembangunan pangan dan gizi perlu diposisikan sebagai central of development bagi keseluruhan pencapaian target Millenium Development Goal’s yang menjadi komitmen bersama.
Permasalahan pangan dan gizi mengalami perkembangan yang sangat cepat dan komplek. Perkembangan lingkungan global seperti adanya global climate change dan meningkatnya harga minyak dunia telah mendorong kompetisi penggunaan hasil pertanian untuk pangan,bahan energy,dan pakan ternak yang makin tajam. Di samping itu, kecenderungan pengabaian terhadap good agricultural practices dan sumber pangan lokal dikhawatirkan akan mengancam ketahanan pangan dan gizi nasional.
Perkembangan ini memerlukan telaah dan respon kebijakan yang lebih menjamin terhadap pengamanan aksesibilitas pangan masyarakat. Globalisasi juga mendorong perubahan pola konsumsi pangan masyarakat yang memerlukan perhatian akan dampaknya terhadap kesehatan. Di samping itu, adanya berbagai isu di masyarakat seperti permasalahan kekurangan gizi dalam bentuk gizi kurang dan gizi buruk, masalah kegemukan atau gizi lebih, serta keamanan pangan juga memerlukan telaah yang komprehensif untuk mencari solusinya, termasuk aspek revitalisasi kelembagaan pangan dan gizi.
Keanekaragaman Indonesia hayati sangat kaya, terdiri atas keanekaragaman tingkat ekosistem, tingkat jenis, dan tingkat genetik, yang mencakup makhluk hidup beserta interaksi antar makhluk hidup serta interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Keanekaragaman hayati pada sistem pertanian telah mengalami kemerosotan yang nyata. Hal ini ditandai dengan semakin sedikitnya jenis tanaman penyedia kebutuhan pangan pokok yang mengancam terwujudnya ketahanan pangan. Apabila kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, maka kemampuan nasional untuk meningkatkan produksi pangan akan menurun. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya krisis pangan di masa datang.
c. Upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan persoalannya.

1. Pemanfaatan SDA
Keanekaragaman hayati Indonesia sebagai sumber daya alam yang merupakan rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang wajib dijaga, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kewajiban tersebut dilakukan dengan maksud agar keanekaragaman hayati tetap menjadi sumber dan penunjang kehidupan rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya, baik di masa sekarang maupun di masa akan datang.
Masyarakat membutuhkan keanekaragaman genetik dalam pertanian untuk menghadapi perubahan lingkungan, termasuk pergeseran dinamika populasi hama, penyakit, gulma, perubahan iklim, dan perubahan selera masyarakat. Ketersediaan Keanekaragaman sumber daya genetik terus menerus dibutuhkan, karena varietas tanaman selalu berada pada kondisi interaksi dengan faktor lingkungan, ekonomi, dan industri pertanian. Ketika salah satu faktor lingkungan atau ekonomi berubah, tanaman yang diusahakan di lahan harus disesuaikan dengan perubahan tersebut. Untuk itu diperlukan cadangan sumber daya genetik guna merakit varietas tanaman baru. Cadangan sumber daya genetik ini diperoleh dari pelestarian keanekaragaman genetik tanaman.
Pada tingkat dunia berbagai spesies baik yang sudah dibudidayakan maupun yang dimanfaatkan secara langsung dari alam, hanya sejumlah kecil saja yang menjadi komoditas pertanian, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok hanya empat jenis saja yang menjadi andalan, yaitu padi, gandum, kentang dan jagung. Di Indonesia, sumber pangan pokok terbatas pada padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan sagu. Sementara itu sebagian besar keanekaragaman hayati sumber pangan yang ada di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian menjadi sangat penting.

2. Upaya Kebijakan Pemerintah untuk Menjamin Ketahanan Pangan

1. Ketersediaan Pangan:
Indonesia secara umum tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut; dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih jauh jaringan distribusi swasta yang berjalan secara effisien turut memperkuat ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Beberapa kebijakan kunci yang memiliki pengaruh terhadap ketersediaan pangan meliputi:
a. Larangan impor beras
b. Upaya Kementerian Pertanian untuk mendorong produksi pangan
c. Pengaturan BULOG mengenai ketersediaan stok beras

2. Keterjangkauan Pangan.
Elemen terpenting dari kebijakan ketahanan pangan ialah adanya jaminan bagi kaum miskin untuk menjangkau sumber makanan yang mencukupi. Cara terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan ini ialah dengan memperluas strategi pertumbuhan ekonomi, khususnya pertumbuhan yang memberikan manfaat bagi kaum miskin. Kebijakan ini dapat didukung melalui program bantuan langsung kepada masyarakat miskin.

3. Membentuk komisi independen yang bertugas memantau stok aman kebutuhan beras nasional.

4. Meningkatkan efektivitas dewan ketahanan pangan Di tingkat kabupaten/kota
Peraturan Pemerintah tahun 2000 mengenai ketahanan pangan memberikan suatu kerangka dimana pemerintah daerah dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan ketahanan pangan nasional. PP ini mengatur bahwa pemerintah sub-nasional turut bertanggung jawab terhadap ketahanan pangan dalam wilayah mereka masing-masing.

5. Kualitas Makanan dan Nutrisi
Sebagai bagian dari kebijakan untuk menjamin ketersediaan pangan yang mencukupi bagi penduduk, ialah kualitas pangan itu sendiri. Artinya penduduk dapat mengkonsumsi nutrisi-nutrisi mikro (gizi dan vitamin) yang mencukupi untuk dapat hidup sehat. Konsumsi pangan pada setiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah meningkat pada jenis-jenis pangan yang berkualitas lebih baik. Namun, Sejumlah kebijakan penting yang berpengaruh terhadap kualitas pangan dan nutrisi meliputi: • Upaya untuk melindungi sejumlah komoditas pangan penting • Memperkenalkan program pangan tambahan setelah krisis

d. Sumber Pangan Alternatif, Potensial dan Teknologi Pengembangan.
Kebutuhan manusia akan pangan terus-menerus meningkat dalam jumlah dan macamnya, sehingga tersedianya sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian menjadi sangat penting. Kepentingan ini telah mendorong petani dan pemulia tanaman untuk merakit varietas-varietas baru tanaman dengan mutu yang lebih baik dan dengan nilai nyata yang lebih tinggi. Di satu pihak, petani mengembangkan varietas secara tradisional dengan jangka waktu penggunaan yang relatif lebih lama, sehingga varietas yang dikembangkan selalu dilestarikan dan dirawat secara turun temurun . Di pihak lain, pemulia tanaman pangan selalu berusaha untuk merakit varietas-varietas baru yang lebih produktif, dalam waktu yang relatif lebih singkat dengan menggunakan teknologi modern.
Dalam upaya pemuliaan tanaman, tidak jarang varietas modern hasil pemuliaan akan menggeser varietas lama. Perkembangan pembuatan varietas-varietas baru ini berlangsung terus menerus, sehingga varietas modern lama akan menjadi varietas lama yang akan tergeser oleh varietas yang lebih modern, dengan akibat makin menyusutnya keanekaragaman sumber daya genetik. Untuk itu diperlukan upaya pengembangan kemampuan petani dan pemulia dalam perakitan varietas unggul tanaman. Indonesia memerlukan berbagai sumber daya genetik baik dari dalam negeri, maupun yang tidak tersedia di dalam negeri untuk pemuliaan tanaman dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat dan pencadangan di masa mendatang. Sehubungan dengan kebutuhan tersebut, Indonesia perlu melakukan kerja sama global untuk dapat mengakses sumber daya genetik. Pengembangan sumber daya genetik tanaman dilakukan melalui kegiatan konservasi, eksplorasi, koleksi, karakterisasi, evaluasi, dokumentasi, dan pemanfaatan.
e.Beberapa Sumber pangan Alternatif
Mencermati fenomena global di bidang pangan, maka budaya mengkonsumsi jenismakanan impor perlu diperbaiki melalui berbagai kampanye dan promosi. Jepang sebagai negara besar dan maju pun sudah mulai berfikir untuk merubah pola konsumsipangannya, dengan tidak menggantungkan pangan impor (gandum dan daging) ke arah konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Oleh sebab itu, Indonesia sebagai negara berkembang dengan penduduk yang banyak harus mulai elakukan diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.

1. Sorgum, Sumber Bahan Pangan Alternatif
Saat ini,Indonesia diprediksi akan mengalami krisis pangan. Namun, sorgum (sejenis tanaman jagung-jagungan) bisa menjadi salah satu sumber pangan alternatif. Selain kandungan proteinnya cukup tinggi, budi daya sorgum pun relatif mudah.
Mungkin, tidak banyak orang yang mengenal sorgum sebagai bahan pangan. Sebab, hanya sebagian masyarakat tertentu di Indonesia yang mengonsumsi bahan pangan yang konon aslinya dari Afrika itu.Sorgum atau dalam bahasa daerah disebut cantel atau canthel ini sudah dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Atom dan Nuklir Nasional (P3TIR-Batan).
Sorgum memang belum terlalu familier bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun, melihat ketahanannya terhadap panas bahkan tetap mampu menghasilkan panen yang melimpah meski di lahan kering, sorgum bisa menjadi sumber pangan potensial.Terutama jika melihat kandungan proteinnya yang lebih tinggi jika dibandingkan padi.

Sebagai perbandingan, kandungan protein pada sorgum per 100 gram mengandung kalori 332 dan protein 11,0, sedangkan 100 gram padi hanya mengandung protein 6,8 dan kalori 360. Kini dengan teknologi radiasi nuklir, Batan sudah mengembangkan benih sorgum potensial dengan hasil melimpah dan siap untuk ditanam petani. Benih sorgum itu tahan panas maupun air. Dengan usia tanam lebih pendek dibandingkan sorgum biasa. Pengembangan sorgum itu bisa menjadi salah satu alternatif sumber pangan Indonesia yang potensial. Sebab, Indonesia saat ini terancam krisis pangan akibat produksi pangan dalam negeri yang tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan masyarakat.
Selain itu Tanaman yang memiliki jumlah spesies lebih dari 30 jenis dan hibrida dua spesies itu bisa dipanen hingga tiga kali dalam sekali tanam., sorgum memang sangat menguntungkan. Selain itu, biji dari tanaman mirip jagung itu bisa dimanfaatkan sebagai campuran tepung gandum. Batangnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi layaknya batang jagung.
Sorgum biasanya dijadikan penganan atau makanan pokok pengganti beras di beberapa daerah. Biasanya, sorgum itu disajikan dengan direbus layaknya nasi, kemudian dicampur kelapa muda. Sementara itu, di sela-sela tanaman padi, sorgum itu bisa ditanam.Namun, tujuan utamanya memang untuk memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif dan kering di Indonesia Berarti, sorgum bisa dimanfaatkan untuk substitusi gandum.Pertama-tama, secara perlahan, sorgum dicampur biji gandum terlebih dahulu. Setelah masyarakat terbiasa, baru tepung biji sorgum murni bisa diperkenalkan kepada masyarakat..
Selain sorgum biasa, Batan juga mengembangkan sorgum manis yang kandungan gulanya sangat tinggi.Jenis tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bioetanol, selain tetes tebu dan singkong. Tanaman jenis ini memang multifungsi dan tidak merepotkan.
Dengan masa tanam lebih pendek dibandingkan padi namun panen melimpah. Lokasi penanaman sorgum, di antaranya Citayam-Bogor, GunungKidul-Yogyakarta,Ciwedey-Bandung.

2. Ubi jalar sebagai diversifikasi produk Pangan

Kita terlena untuk banyak mengonsumsi berbagai residual goods, yaitu produk-produk kelebihan dari berbagai negara dengan harga murah yang justru mematikan industri dalam negeri sendiri. Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC. Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia dan bisa menjadi alternatif menuju ketahanan pangan.
Ubijalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternatif untuk mendampingi beras menuju ketahanan pangan. Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan, berikut kelebihaan dan potensi ubi jalar :
(1) Sesuai dengan agroklimat sebagian besar wilayah Indonesia, ubi jalar juga.
(2) Mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. Alasan lainnya adalah.
(3) Mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan).
(4) Potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk program diversifikasi pangan.
Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/ ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah kurang lebih 4.5 ton/ha atau ubi kayu kurang lebih 8 ton/ha, padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar. Penelitian mengenai ubi jalar pun kini semakin banyak dan berkembang, karena mempunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index .
Negara-negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar. Pendirian industri yang menggunakan bahan baku dasar ubi jalar, akan menjadi peluang yang cukup baik bagi dunia usaha di Indonesia. Selain mendukung dan mensukseskan program diversifikasi pangan, juga mendatangkan keuntungan bagi pelakunya, serta membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitarnya. Diperlukan sosialisasi yang terus menerus dan kerjasama yang baik antara semua pihak untuk mengembangkan pangan dari ubi jalar ini. Pemerintah harus berani membuat kebijakan yang mendukung percepatan program ini, seperti contohnya Korea Selatan. Selain memberikan berbagai subsidi dan mengeluarkan kebijakan proteksi, Pemerintah Korea Selatan juga mewajibkan sehari tanpa beras dalam seminggu.

IV. KESIMPULAN

Pangan menjadi hal yang paling urgen di dalam kehidupan kita, karena menyangkut keberlangsungan hidup, regenerasi dan kemajuan suatu bangsa, tapi tidak bisa dipungkiri, bangsa Indonesia sebagai negara agraris justru mengalami kesulitan pangan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri, angka kemiskinan yang tinggi, gizi buruk, impor pruduk asing yang tidak terbendung, terus menjadi masalah yang tidak kunjung usai.
Disini peran pemerintah harus lebihg serius menangani masalah ini, baik melalui pemanfaatan SDA Indonesia yang sangat kaya sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pangan, penetapan undang-undang, managemen pangan, pengawasan terhadap distribusi pangan dan pengembangan teknologi pangan, pemerintah harus melakukan upaya alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Shorgun dan ubi jalar contohnya, sumber pangan yang selama ini tidak pernah kita perhatikan sangat potensial karena mudah ditanam dimana saja, bahkan di lahan yang rusak sekalipun, Memiliki kandungan yang lebih baik bagi dari pada beras. Dan sumber pangan lainnya yang sangat potensial tetapi belum kita kembangkan.

V. PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun, semoga dapat memberikan manfaat pengetahuan, pencerahan dan menggugah kesadaran kita. Segala sesuatu tidak akan berubah baik dengan sendirinya, tetapi hal positif dapat kita mulai dari diri sendiri. Terimakasih..


DAFTAR PUSTAKA

Ahsol Hasyim Diversifikasi Produk Ubi Jalar Sebagai Bahan Pangan Subsitusi Beras. ('Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Balai Penelitian Tanaman kacang-kacangan dan Umbi-umbian : Malang). http://www.pustaka-deptan.go.id/inovasi/kl08081.pdf, 1 November 2008,

http://www.google.co.id/search?hl=id&q=tujuan+sumber+pangan&start=60&sa=N, 1 November 2008.

http://www.kalbe.co.id/files/coe/080826_Widyakarya%20pangan%202008.pdf, 1 November 2008.

http://kharisma.de/files/home/makalah_hanny.pdf Thursday, March 13, 2008, 1 November 2008. P

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/sorgum-sumber-bahan-pangan-lternatif.html ,1 November 2008.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment